Tuesday, October 11, 2011

Tipe Diabetes Pada Kehamilan

Tipe Diabetes Pada Kehamilan

Pembagian Diabetes Melitus pada Kehamilan terbagi menjadi :
1) Diabetes Melitus yang memang sudah diketahui sebelumnya dan kemudian menjadi hamil (Diabetes Melitus Hamil=DMH=Diabetes Melitus Gestasional). Sebagian besar termasuk golongan Insulin Dependent Diabetes Melitus/IDDM (Diabetes Melitus yang tergantung pada insulin).

2) Diabetes Melitus baru saja ditemukan pada saat kehamilan (Diabetes Melitus Gestasional=DMG). Umumnya termasuk golongan Non Insulin Dependent Diabetes Melitus/NIDDM (Diabetes Melitus yang tidak tergantung pada insulin).

Sedangkan Diabetes Melitus Gestasional sendiri dibagi menjadi dua sub kelompok:
a) Sebenarnya sudah mengidap Diabetes Melitus sebelumnya, tapi baru diketahui saat hamil (sama dengan Diabetes Melitus Hamil).

b) Sebelumnya belum mengidap diabetes mellitus, baru mengidap diabetes mellitus dalam masa kehamilan (Pregnancy-Induced Diabetes Melitus, DMG sesungguhnya) sesuai dengan definisi lama WHO 1980.

Kedua sub kelompok ini baru dapat dibedakan setelah dilakukan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) ulangan pasca persalinan. Untuk sub kelompok Diabetes Melitus Hamil, hasil Test Toleransi Glukosa Oral (TTGO) pasca persalinan masih akan tetap abnormal, sementara untuk Diabetes Melitus Gestasional hasil kembali normal (Maryunani, 2008).
»»  READMORE...

Gejala Diabetes Mellitus

Gejala Diabetes Mellitus

Gejala diabetes bisa muncul secara mendadak, bisa juga ketika seseorang melakukan pemeriksaan untuk penyakit selain Diabetes. Gejala yang sangat umum adalah :
a. sering kencing pada malam hari (poliuria)
b. selalu merasa haus (polidipsia)
c. selalu merasa lapar (polifagia)
Gejala umum lain yang menyebabkan seseorang ingin segera pergi ke dokter adalah kelainan kulit seperti gatal dan bisul,kelainan ginekologi seperti keputihan,serta kesemutan yang disertai mati rasa. Kadang-kadang tubuh menjadi lemah dan terasa lelah. Biasanya akan muncul luka atau bisul yang tak kunjung sembuh atau terjadi infeksi di saluran kemih. Bisa juga terjadi impotensi, katarak, atau seorang perempuan melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4 kilogram.
Gejala – gejala awal Dahaga/haus
a. Berat badan turun
b. Luka lambat sembuh
c. Penglihatan menjadi kabur

Komplikasi :
a. Koma
b. Darah tinggi
c. Buta
d. Kerusakan buah pinggang
e. Penyakit jantung


»»  READMORE...

Patogenesis (Perjalanan Penyakit) Diabetes Mellitus

Patogenesis (Perjalanan Penyakit) Diabetes Mellitus

Perkembangan penyakit dapat dibagi menjadi 4 tahap, yaitu:
a. Normal atau Sehat
1) Kadar gula darah normal
2) Perlu waktu bertahun-tahun untuk berkembang menjadi Diabetes Mellitus.

b. Pre Diabetes
1) Mulai terjadi peningkatan kadar glukosda darah secara bertahap.
2) Kadar glukosa darah tidak cukup tinggi untuk menimbulkan gejala tetapi cukup
mampu menyebabkan kerusakan dan gangguan fungsi berbagai jaringan tubuh.
3) Beresiko mengalami komplikasi
4) Sering disertai faktor resiko lain seperti hipertensi,dislipidemia dan kegemukan
atau obesitas. 5) Dapat dilakukan upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi
dan perkembangan menjadi diabetes.

c. Diabetes Sering ditemukan komplikasi pada saat diagnosis

d. Komplikasi
1) Terutama penyakit jantung koroner dan stroke
2) Dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ misalnya mata, ginjal, dan syaraf
3) Dapat berakibat fatal.


»»  READMORE...

Penyebab Diabetes Mellitus

Penyebab Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus disebabkan berkurangnya produksi dan ketersediaan insulin dalam tubuh atau terjadinya gangguan fungsi insulin yang sebenarnya berjumlah cukup. Kekurangan insulin disebabkan adanya kerusakan sebagian kecil atau sebagian besar sel-sel beta pulau langerhans dalam kelenjar pankreas yang berfungsi menghasilkan insulin. Namun, jika dirunut lebih lanjut, beberapa faktor yang menyebabkan DM sebagai berikut :

a. Genetik atau Faktor Keturunan
Diabetes mellitus cenderung diturunkan atau diawariskan, bukan ditularkan. Anggota keluarga penderita DM (diabetisi) memiliki kemungkinan lebih besar terserang penyakit ini dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak menderita DM. Para ahli kesehatan juga menyebutkan DM merupakan penyakit yang terpaut kromosom seks atau kelamin. Biasanya kaum laki-laki menjadi penderita sesungguhnya, sedangkan kaum perempuan sebagai pihak yang membawa gen untuk diwariskan kepada anak-anaknya.

b. Virus dan Bakteri
Virus penyebab DM adalah rubela,mumps,dan human coxsackievirus B4. Melalui mekanisme infeksi sitolitik dalam sel beta, virus ini mengakibatkan destruksi atau perusakan sel. Bisa juga, virus ini menyerang melalui reaksi otoimunitas yang menyebabkan hilangnya otoimun dalam sel beta. Diabetes mellitus akibat bakteri masih belum bisa dideteksi. Namun, para ahli kesehatan menduga bakteri cukup berperan menyebabkan DM.

c. Bahan Toksik atau Beracun
Bahan beracun yang mampu merusak sel beta secara langsung adalah alloxan, pyrinuron
(rodentisida), dan streptozoctin (produk dari sejenis jamur). Bahan lain adalah sianida yang berasal dari singkong.

d. Nutrisi
Nutrisi yang berlebihan (overnutrition) merupakan faktor resiko pertama yang diketahui menyebabkan DM. Semakin berat badan berlebih atau obesitas akibat nutrisi yang berlebihan, semakin besar kemungkinan seseorang terjangkit DM (Depkes RI, 2003).

»»  READMORE...

Klasifikasi Diabetes Melitus

Klasifikasi atau Tipe Diabetes Melitus

a. Diabetes Tipe 1, DM tipe 1 atau yang dulu dikenal dengan nama Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM), terjadi karena kerusakan sel b pankreas (reaksi autoimun). Bila kerusakan sel beta telah mencapai 80--90% maka gejala DM mulai muncul. Perusakan sel beta ini lebih cepat terjadi pada anak-anak daripada dewasa. Sebagian besar penderita DM tipe 1 mempunyai antibodi yang menunjukkan adanya proses autoimun, dan sebagian kecil tidak terjadi proses autoimun. Kondisi ini digolongkan sebagai tipe 1 idiopatik. Sebagian besar (75%) kasus terjadi sebelum usia 30 tahun, tetapi usia tidak termasuk kriteria untuk klasifikasi.

b. Diabetes Tipe 2, DM tipe 2 merupakan 90% dari kasus DM yang dulu dikenal sebagai non insulin dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Pada diabetes ini terjadi penurunan kemampuan insulin bekerja di jaringan perifer (insulin resistance) dan disfungsi sel beta. Akibatnya, pankreas tidak mampu memproduksi insulin yang cukup untuk mengkompensasi insulin resistan. Kedua hal ini menyebabkan terjadinya defisiensi insulin relatif. Gejala minimal dan kegemukan sering berhubungan dengan kondisi ini,yang umumnya terjadi pada usia > 40 tahun. Kadar insulin bisa normal, rendah, maupun tinggi, sehingga penderita tidak tergantung pada pemberian insulin.

c. DM Dalam Kehamilan, DM dan kehamilan (Gestational Diabetes Mellitus - GDM) adalah kehamilan normal yang disertai dengan peningkatan insulin resistan (ibu hamil gagal mempertahankan euglycemia). Faktor risiko GDM: riwayat keluarga DM, kegemukan, dan glikosuria. GDM ini meningkatkan morbiditas neonatus, misalnya hipoglikemia, ikterus, polisitemia, dan makrosomia. Hal ini terjadi karena bayi dari ibu GDM mensekresi insulin lebih besar sehingga merangsang pertumbuhan bayi dan makrosomia. Frekuensi GDM kira-kira 3--5% dan para ibu tersebut meningkat risikonya untuk menjadi DM di masa mendatang.

d. Diabetes Tipe Lain, Subkelas DM di mana individu mengalami hiperglikemia akibat kelainan spesifik (kelainan genetik fungsi sel beta), endokrinopati (penyakit
Cushing’s , akromegali), penggunaan obat yang mengganggu fungsi sel beta (dilantin), penggunaan obat yang mengganggu kerja insulin (b-adrenergik), dan infeksi/sindroma genetik
(Down’s, Klinefelter’s).
»»  READMORE...

Definisi Diabetes Mellitus

Definisi Diabetes Melitus

Diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikema kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, syaraf dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Mansjoer, 2000).

Diabetes mellitus adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan gangguan multi sistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat (Brunner dan Sudartha, 2001).

Diabetes mellitus adalah penyakit yang mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan dengan gejala yang sangat bervariasi (Waspadji, 2002). Dari pengertian-pengertian diatas dapat di ambil kesimpulan bahwa diabetes mellitus merupakan suatu sindrom gangguan metabolik secara genetis dan klinis ditandai oleh hiperglikemia yang meliputi kelainan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang dapat mengenai semua organ tubuh dengan gejala yang sangat bervariasi.
»»  READMORE...

Monday, October 10, 2011

Obat Diabetes

Obat Diabetes

Pengobatan diabetes secara menyeluruh mencakup diet yang
benar, olahraga yang teratur, kemudian dilanjutkan dengan
obat-obatan yang diminum, atau suntikan insulin.
Pada diabetes tipe 1, mutlak memerlukan suntikan insulin
setiap hari; sedangkan pada diabetes tipe 2, kadang dengan
diet dan olahraga saja glukosa darah bisa menjadi normal,
namun umumnya perlu minum obat anti diabetes secara oral
atau tablet, pada keadaan tertentu diabetes tipe 2 memerlukan
suntikan insulin, atau bahkan perlu kombinasi suntikan insulin dan tablet. Di
negara yang sudah maju, telah dipikirkan upaya cangkok
pankreas untuk mengganti pankreas yang sudah rusak, hanya
saja hasilnya sampai saat ini belum ada yang memuaskan.

Kemajuan teknologi dewasa ini telah menemukan banyak obat
tablet jenis baru dengan hasil yang cukup menggembirakan,
demikian pula bermacam-macam insulin baru telah dipasarkan.
Sehingga disamping angka kejadian diabetes yang terus
meningkat, kemajuan dalam pengobatan diabetes juga terus
berpacu untuk mengantisipasinya.

Dalam Bab ini akan dibicarakan tentang bermacam-macam
tablet oral untuk menurunkan glukosa darah. Obat tablet ini
disebut sebagai Oral Anti Diabetes (OAD) atau Oral
Hypoglycemic Agents (OHA). Hingga kini dikenal ada lima
macam OAD yang dipasarkan, tiap macam OAD mempunyai
susunan kimia yang berbeda dan cara menurunkan glukosa
yang berlainan. Ada yang merangsang pankreas untuk
memproduksi insulin lebih banyak, yang lain bekerja
mengurangi resistensi terhadap insulin, sedangkan yang
lainnya menghambat penyerapan karbohidrat dari usus.
Pasien diabetes tipe 2, pada permulaan pengobatan biasanya
memakai satu jenis OAD, namun untuk lebih efektif
menurunkan glukosa darah, kadang diperlukan lebih dari satu
macam OAD.

SULFONYLUREA
Sulfonylurea adalah tablet OAD yang paling banyak
dikenal dalam puluhan tahun terakhir ini. Untuk
menurunkan glukosa darah, obat ini merangsang sel
beta dari pankreas untuk memproduksi lebih banyak
insulin. Jadi syarat pemakaian obat ini adalah apabila
pankreas masih baik untuk membentuk insulin, sehingga
obat ini hanya bisa dipakai pada diabetes tipe 2.

Kebanyakan pasien diabetes mengenal obat golongan
sulfonylurea ini, yaitu antara lain :
* Chlorpropamide
* Glibenclamide atau Glyburide
Saat ini yang paling banyak dipakai adalah glimepiride,
glibenclamide, dan glipizide. Pemberian obat
sulfonylurea biasanya 15 sampai 30 menit sebelum
makan.
Glibenclamide adalah OAD yang cukup kuat menurunkan
glukosa darah, pada dosis yang tinggi bisa menyebabkan
hipoglikemia. Obat ini di pasaran dikenal dengan nama
dagang Daonil atau Euglucon, masih ada lagi buatan
lokal, seperti Glimel, Renabetic, Prodiamel, atau yang
generik Glibenclamide buatan Indo Farma.
Glimepiride diberikan satu kali sehari, yang ada di
pasaran bisa 1 mg, 2 mg, 3 mg, atau 4 mg. Obat ini
aman bagi penderita dengan komplikasi ginjal, karena
tidak mengganggu absorpsi maupun kerja obat. Obat
orisinal adalah Amaryl, yang buatan lokal antara lain
Metrix, Gluvas, Amadiab, atau Glamarol.
Glipizide relatif lebih ringan dan lebih jarang
menimbulkan hipoglikemia, tinggal dalam peredaran
darah hanya beberapa jam, kecuali yang tipe XL, beredar
dalam darah sampai 24 jam. Contoh yang orisinal adalah
Minidiab atau Glucotrol dan Glucotrol XL, ada sediaan 5
mg atau 10 mg.
Efek Samping
Sulfonylurea bisa menyebabkan hipoglikemia, terutama
bila dipakai dalam 3 – 4 bulan pertama pengobatan
akibat perubahan diet dan pasien mulai sadar
berolahraga serta minum obat. Apabila ada gangguan
fungsi ginjal atau hati, dosis perlu diperhatikan karena
lebih mudah timbul hipoglikemia. Namun secara umum
obat ini baik untuk menurunkan glukosa darah.
Yang Harus Diperhatikan
Semua usaha menurunkan glukosa darah diluar obat
seperti olahraga lebih dari biasanya, tidak makan atau
makan terlalu sedikit, apabila dilakukan bersamaan
dengan minum sulfonylurea, mudah menyebabkan
hipoglikemia.
Demikian bila menggunakan beberapa obat pilek
decongestan, atau alkohol, bisa menurunkan glukosa.
Sebaliknya pada pemakaian steroid, penyekat beta,
niacin, atau obat jerawat retin-A, dapat mengurangi efek
obat sehingga glukosa tidak mau turun.
Anda dianjurkan membuat pencatatan semua data obat
yang dipakai, semua copy resep dari semua dokter anda,
serta catatan bila terjadi kemungkinan efek samping
obat.

BIGUANIDES
Obat biguanides memperbaiki kerja insulin dalam tubuh,
dengan cara mengurangi resistensi insulin.
Pada diabetes tipe 2, terjadi pembentukan glukosa oleh
hati yang melebihi normal. Biguanides menghambat
proses ini, sehingga kebutuhan insulin untuk mengangkut
glukosa dari darah masuk ke sel berkurang, dan glukosa
darah menjadi turun.
Karena cara kerja yang demikian, obat ini jarang sekali
menyebabkan hipoglikemia.
Satu-satunya biguanides yang beredar di pasaran adalah
Metformin, contohnya Glucophage, masih ada lagi
produk lokal misalnya Diabex, Glumin, Glucotika,
Formell, Eraphage, Gludepatic, dan Zumamet.
Ada satu keuntungan obat ini adalah tidak menaikkan
berat badan, jadi sering diresepkan pada diabetes tipe 2
yang gemuk. Obat ini juga sedikit menurunkan kolesterol
dan trigliserida.
Obat ini biasanya diminum dua sampai tiga kali sehari
sesudah makan. Ada kemasan Glucophage XR yang
bekerja 24 jam, diminum sekali sehari.
* Gliquidone
* Gliclazide
* Glipizide
* Glimepiride.
Efek Samping
Metformin biasanya jarang memberikan efek samping.
Tetapi pada beberapa orang bisa timbul keluhan
terutama pada saluran cerna, misalnya :
* Gangguan pengecapan
* Nafsu makan menurun
* Mual, muntah
* Kembung, sebah, atau nyeri perut
* Banyak gas di perut, atau diare
* Pada beberapa penderita, dilaporkan bisa
menimbulkan ruam atau bintik-bintik di kulit.
Efek samping di atas biasanya timbul pada beberapa
minggu pertama penggunaan obat, yang akan berangsur
berkurang. Untuk menghindari efek samping ini,
dianjurkan minum obat bersama atau sesudah makan,
dan dimulai dari dosis kecil yang kemudian dosis
ditingkatkan.
Bila dikombinasikan dengan obat lain, misalnya
sulfonylurea, meglitinide, atau insulin, obat metformin
bisa menimbulkan hipoglikemia.
Yang Harus Diperhatikan
Hati-hati jangan minum alkohol, bila alkohol dan
metformin diminum bersama, bisa terjadi penimbunan
obat dalam tubuh dan timbul lactic acidosis, keadaan ini
bisa berbahaya, dengan keluhan sebagai berikut:
* Rasa capai
* Nyeri otot
* Sukar bernafas
* Nyeri perut
* Pusing, mengantuk, sampai gangguan kesadaran.
Keluhan perut akibat obat metformin bisa diatasi dengan
obat simetidin atau obat perut lain untuk mengatasi
keluhan mual, muntah, kembung, dan diare.
Bila terjadi lactic acidosis (meskipun jarang), harus
menghentikan obat metformin, dan dokter perlu memberi
suntikan iv dye (obat kontras yang biasanya digunakan
untuk pemeriksaan radiologi).

ALPHA-GLUCOSIDASE INHIBITORS
Obat golongan ini bekerja di usus, menghambat enzim di
saluran cerna, sehingga pemecahan karbohidrat menjadi
glukosa atau pencernaan karbohidrat di usus menjadi
berkurang. Hasil akhir dari pemakaian obat ini adalah
penyerapan glukosa ke darah menjadi lambat, dan
glukosa darah sesudah makan tidak cepat naik.
Termasuk obat golongan ini kita kenal dengan Acarbose
dan Miglitol. Acarbose ada di pasaran dengan nama
Glucobay, dalam kemasan 50 mg dan 100 mg, yang
diminum bersamaan dengan makanan, ditujukan
terutama untuk mengatasi kenaikan glukosa darah
sesudah makan.
Efek Samping
Obat ini umumnya aman dan efektif, namun ada efek
samping yang kadang mengganggu, yaitu perut
kembung, terasa banyak gas, banyak kentut, bahkan
diare. Keluhan ini biasanya timbul pada awal pemakaian
obat, yang kemudian berangsur bisa berkurang.
Bila diminum bersama dengan suntikan insulin atau
tablet sulfonylurea, kadang bisa menyebabkan
hipoglikemia. Apabila efek samping ini terjadi, maka
dianjurkan minum susu atau suntik glukosa, karena
makanan gula atau buah manis akan dihambat
penyerapannya oleh acarbose.
Yang Harus Diperhatikan
Karena kerap timbul keluhan perut, maka acarbose
jangan diberikan pada keadaan sebagai berikut :
* Irritable bowel syndrome
* radang usus kronis, ulcerative colitis atau Crohn’s
disease
* gangguan penyerapan usus yang kronis, chronic
malabsorption disorder.
Dosis yang tinggi dari acarbose dapat menggangu fungsi
hati, tetapi bila dosis obat diturunkan atau dihentikan
maka hati akan pulih (reversible).

MEGLITINIDES
Obat ini secara susunan kimiawi berbeda dengan
sulfonylurea, namun cara kerjanya sama. Obat ini
menyebabkan pelepasan insulin dari pankreas secara
cepat dan dalam waktu singkat. Sehubungan dengan
sifat cepat dan singkat ini, maka obat ini harus diminum
bersama dengan makanan. Termasuk golongan obat ini
adalah Repaglinide (Novonorm) dan Nateglinide (Starlix).
Efek Samping Meskipun sama seperti sulfonylurea, efek
samping hipoglikemia boleh dikatakan jarang terjadi, hal
ini disebabkan oleh efek rangsangan pelepasan insulin
hanya terjadi pada saat glukosa darah tinggi. Yang Harus
Diperhatikan Seperti halnya dengan sulfonylurea,
hati-hati bila minum alkohol atau efek interaksi dengan
obat lain.

THIAZOLIDINEDIONES
Obat ini baik bagi penderita diabetes tipe 2 dengan
resistensi insulin, karena bekerja dengan merangsang
jaringan tubuh menjadi lebih sensitif terhadap insulin,
sehingga insulin bisa bekerja dengan lebih baik, glukosa
darahpun akan lebih banyak diangkut masuk ke dalam
sel, dan kadar glukosa darah akan turun.
Selain itu, obat thiazolidinediones juga menjaga hati agar
tidak banyak memproduksi glukosa. Efek
menguntungkan lainnya adalah obat ini bisa menurunkan
trigliserida darah.
Termasuk kelompok obat ini adalah Pioglitazone (Actos)
dan Rosiglitazone (Avandia). Dulu ada Troglitazone
(Rezulin), yang ditemukan pada tahun 1997, namun
beberapa tahun yang lalu telah ditarik dan dilarang
beredar, karena menimbulkan kerusakan hati.
Efek Samping
Beberapa efek merugikan yang mungkin timbul adalah
bengkak, berat badan naik, dan rasa capai. Efek serius
yang jarang terjadi adalah gangguan hati, sehingga pada
pemakaian pioglitazone atau rosiglitazone, perlu
pemeriksaan faal hati terutama pada tahun pertama
pemakaian obat. Keluhan gangguan hati yang mungkin
terjadi antara lain:
* Mual dan muntah
* Nyeri perut
* Rasa capai
* Nefsu makan turun
* Warna urin kuning tua
* Warna kulit kuning
Yang Harus Diperhatikan
Obat ini baik sekali diserap bila diminum bersama
dengan makanan, dan tidak menyebabkan hipoglikemia.
Akan tetapi bila dikombinasikan dengan sulfonylurea
atau insulin, maka mungkin bisa menyebabkan
hipoglikemia.

KOMBINASI OBAT

Obat anti diabetes oral bisa dikombinasikan satu dengan
kelompok yang lain, atau kadang perlu dikombinasikan
dengan insulin. Tujuan kombinasi ini adalah agar efek
obat lebih optimal dalam mengontrol glukosa darah.

Apabila dua obat kombinasi masih belum berhasil baik,
dokter bahkan boleh meresepkan tiga jenis obat
sekaligus, karena cara kerjanya bisa bersama saling
menguntungkan untuk menurunkan glukosa.

Sulfonylurea dan Metformin
Golongan sulfonylurea paling banyak atau paling sering
dikombinasikan dengan obat anti diabetes kelompok lain,
karena efek kombinasi bisa memperbaiki dan menambah
kerja insulin.
Kombinasi sulfonylurea dan metformin lebih baik
daripada bila kedua obat dipakai secara terpisah sendiri.
Metformin bahkan baik karena tidak menaikkan berat
badan bahkan kadang menurunkannya.
Efek samping kombinasi ini adalah gangguan perut
seperti mual atau diare, kadang bisa menimbulkan
hipoglikemia.
Kini telah dipasarkan kombinasi dua kelompok obat ini,
contohnya adalah tablet Glucovance, yang tersedia
dalam tiga kemasan, yaitu mengandung
metformin/glibenclamide 500 mg/5 mg, 500 mg/2.5 mg,
dan 250 mg/1.25 mg.
Dalam waktu dekat akan beredar pula kombinasi
glimepiride dan metformin dalam satu tablet.
Sulfonylurea dan Alpha-Glucosidase Inhibitor
Pada kasus dimana glukosa darah meningkat banyak
pada 2 jam sesudah makan, maka pemakaian
sulfonylurea yang dikombinasikan dengan acarbose akan
lebih berhasil baik.
Efek samping yang bisa terjadi adalah kram perut,
banyak gas atau diare. Kadang juga bisa timbul
hipoglikemia.
Sulfonylurea dan Thiazolidinediones
Bila penggunaan sulfonylurea sudah maksimal dan
masih belum berhasil baik, mungkin penyebabnya adalah
resistensi insulin karena kegemukan, bisa dicoba
kombinasi baru ini dengan menambahkan
thiazolidinediones. Sulfonylurea akan merangsang
produksi insulin sedangkan thiazolidinediones
memperbaiki kerja insulin.
Metformin dan Alpha-Glucosidase Inhibitor
Penambahan acarbose atau miglitol pada metformin
adalah lebih baik dalam menurunkan glukosa darah
daripada pemakaian metformin secara tunggal.
Efek samping adalah bisa menimbulkan keluhan pada
perut.

Metformin dan Thiazolidinediones
Telah diakui efek menguntungkan dari kombinsai
pioglitazone atau rosiglitazone dengan metformin.
Sekarang sudah beredar di pasaran satu obat yang
berisikan kombinasi dua kelompok obat tersebut di atas,
yaitu rosiglitazone (avandia) dengan metformin dalam
bentuk Avandamet, dan pioglitazone (actos) dengan
metformin dalam satu tablet Actos-met.
»»  READMORE...