Wednesday, August 24, 2011

Deteksi Dini Kebutaan akibat Diabetes Melitus di Puskesmas

Deteksi Dini Kebutaan akibat
Diabetes Melitus
di Puskesmas
Dr. Dy~ri Djuwantoro
Puskesmas Sejangkung, Sambas, Kalimantan Barat

PENDAHULUAN
Diabetes melitus adalah suatu sindrom kelainan
metabolisme glukosa dan hiperglikemia yang diakibatkan oleh
kekurangan sekresi insulin yang absolut, penurunan efektivitas
biologis insulin atau keduanya. Sekitar 200 juta orang di
seluruh dunia dan 20 juta orang di Amerika menderita diabetes
melitus. Penderita diabetes melitus mempunyai kecenderungan
25 x lebih mudah mengalami buta sebagai akibat retinopati
diabetik daripada non-diabetes.

PATOGENESIS RETINOPATI DIABETIK
Meskipun penelitian telah dilakukan secara intensif, namun
patofisiologi retinopati diabetik belum diketahui hingga dewasa
ini(2,3). Jaringan sasaran retinopati diabetik adalah kapiler
retina. Beberapa penulis mengemukakan model hemodinamik :
hiperperfusi retina dianggap bertanggung jawab atas timbulnya
kerusakan, iskemi, dan retinopati kapiler(2).

STADIUM RETINOPATI DIABETIK
Stadium-stadium komplikasi vaskuler ditetapkan berdasarkan
gambaran oftalmologik; tiga stadium retinopati diabetik
yaitu : non proliferatif, pra-proliferatif, dan proliferatif.
Pada stadium non-proliferatif, kapiler retina bocor dan
mengalami oklusi.Gambaran klinis yang dapat ditemukan adalah
mikroaneurisma, perdarahan intraretina, dan edema makuler.
Penderita akan mengalami penurunan ketajaman penglihatan
hanya jika terdapat edema makuler, yang dilaporkan mengenai
5%-20% penderita diabetes, tergantung pada tipe dan lamanya
diabetes melitus. Di samping itu, penderita dapat asimptomatik.
Beberapa penderita berlanjut ke stadium pra-proliferatif,
yang secara khas ditandai oleh manik-manik venosa, kelainan
mikrovaskuler intraretina, perdarahan retina yang luas, serta
cotton wool spots. Terdapat kemungkinan sangat besar bahwa
retinopati pra-proliferatif berlanjut menjadi retinopati proliferatif,
yang bertanggung jawab atas sebagian besar penurunan
ketajaman penglihatan yang serius dan komplikasi-komplik'asi
yang berat pada penderita diabetes.
Pada retinopati proliferatif, sebagai akibat iskemi retina
yang terus menerus, pembuluh darah baru (neovaskularisasi)
terbentuk di daerah diskus optikus atau di tempat lain di lapisan
retina. Pada stadium ini, penderita masih dapat asimptomatik
dan penatalaksanaan laser perlu dilakukan jika retinopati dapat
ter-diagnosis. Jikalau tidak, pembuluh-pembuluh darah ini akan
tumbuhke dalam rongga vitreum dan berdarah akibat tarikan
dan pergeseran korpus vitreum: Dengan adanya darah dalam
korpus vitreum, penderita mengeluh melihat banyak 'apungan'
dan mengalami penurunan tajam penglihatan. Jaringan fibrous
biasanya menyertai pembuluh darah baru dan kontraksinya
dapat menyebabkan ablasio atau terputusnya retina.
Segera setelah proliferasi fibrous menyebabkan terlepasnya
(ablasio) retina, bedah laser mungkin tidak memberikan hasil
yang efektif. Pada kasus-kasus seperti ini, tajam penglihatan
kadang kala dapat dipulihkan dengan vitreaktomi, yaitu suatu
operasi untuk mengangkat korpus vitreum dan menggantikannya
dengan larutan fisiologis.
Tipe diabetes, lamanya penyakit merupakan faktor risiko
yang memegang peranan penting pada retinopati proliferatif, di
samping kontrol glukosa yang kurang memadai, tekanan darah
tinggi, proteinuri, dan kehamilan(3).

DETEKSI DINI
Sekurang-kurangnya 50% kebutaan akibat diabetes melitus
dapat dicegah dengan penatalaksanaan laser pada retina;
penatalaksanaan seperti ini memberi hasil yang paling efektif
bila dimulai sebelum penderita mengalami penurunan tajam
penglihatan serta sebelum timbulnya perdaerahan vitreum dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 55
ablasio retina akibat tarian. Dengan demikian, selama perawatan
penderita diabetes, diharapkan dokter puskesmas melakukan
pemeriksaan tajam penglihatan dan mempertimbangkan pemeriksaan
fundoskopi pada setiap perawatan lanjutan. Perlu
diingat bahwa retinopati diabetik stadium yang paling mudah
diobati dapat terjadi tanpa disertai dengan gejala klimis.
Untuk mempermudah dan menegaskan peranan doktei
puskesmas dalam pencegahan kebutaan pada penderita diabetes
melitus, perlu diperhatikan garis pedoman sistem rujukan yang
dikeluarkan oleh American Academy of Ophthalmology berikut
ini :
a) Penderita diabetes melitus tipe I sebaiknya lperiksa oleh
ahli mata setiap tahun dimulai dalam waktu a tahun setelah
diagnosis diabetes melitus ditegakkan, karena retinopati tidak
timbul hingga lima tahun setelah dia:nosis.
b) Penderita diabetes melitus tipe II perlu mendapatkan pemeriksaan
ahli mata setiap tahun dalam waktu beberapa bulan
setelah diagnosis, sebab retinopati yang dapat diobati mungkin
terjadi pada saat diagnosis.
c) Penderita yang tidak mendapatkan kontrol diabetes,
tekanan darah tinggi atau proteinuri secara memadai sebaiknya
menjalani pemeriksaan yang lebih sering, karena penderita
tersebut mempunyai risiko yang sangat tinggi untuk mengalami
retinopati yang timbul cepat.
d) Penderita dengan retinopati pra-proliferatif perlu diperiksa
oleh ahli mata setiap tiga sampai empat bulan, karena terdapat
risiko menderita retinopati proliferatif.
e) Penderita yang telah menjalani perawatan bedah laser atau
vitrektomi sebaiknya menepati jadtial perawatan lanjutan yang
ditetapkan oleh ahli mata yang merawatnya.
f) Wanita hamil dengan diabetes tipe I sebaiknya menjalani
pemeriksaan ahlimataselama trimester pertamadanselanjutnya
setiap tiga bulan hingga melahirkan(3).
RINGKASAN
a) Penderita diabetes mempunyai risiko 25 kali lebih besar
untuk mengalami kebutaan(1,3).
b) Lebih dari 50% kasus kebutaan sebagai akibat retinopati
diabeti dapat diobati dan dicegah dengan sinar laser dan operasi
korpus viterum.
c) Agar mendapatkan hasil yang efektif, penatalaksanaan
hams dilakukan pad stadium dini retinopati; dengan demikian
deteksi dini oleh do er puskesmas memegang peranan yang
sangat panting.
d) Retinopati diabetik dapat asimptomatik pada stadium awal,
dan jugapada stadium lanjut meskipun terdapat risiko tinggi
retinopati proliferatif.
e) Deteksi dini dan sistem rujukan memegang peranan penting(3).

KEPUSTAKAAN
1. Askandar Tj. Makro dan Mikroangiopati Diabetik. Ilmu Penyakit Dalam.
Balai Penerbit FKUI, 1987; 2:394.
2. Patel V. et al. Retinal blood flow in diabetic retinopaday. BMJ 1992; 305:
678-83.
3. Patrick CP Hp. Preventing blindness from diabetes. Asian Medical News
1993;15(10):17.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment